Umat Islam Harus Peduli Politik dan Bersatu Dalam Tahun Politik 2019

Umat Islam Harus Peduli Politik dan Bersatu Dalam Tahun Politik 2019

Tahun 2019 merupakan tahun politik. Masyarakat Indonesia dihadapkan kepada dua agenda besar yaitu, pemilihan calon anggota legislatif dan pemilihan calon presiden dan wakil presiden. Dalam menghadapi perhelatan politik besar itu umat Islam harus memiliki sikap politik yang berpihak kepada Islam. Umat Islam harus bersatu dalam menghadapi kekuatan besar yang selama ini menguasai sistem politik, oknum penguasa, hukum, parpol, ormas bahkan semua lapisan penegak hukum tidak terkecuali. Kekuatan besar ini tampaknya selain dari kekuatan internal bangsa tetapi jygandidukung kekuatan asing. Sepak terjang kekuatan besar yang semakin menjadi dalam tiga tahun terakhir ini bukan karena sistem politik di Indonesia tetapi karena oknum penguasa yang memberi ruang dan kesempatan yang berlebihan yang menimbulkan ketidak adilan pada umat.

Ia khawatir jika presiden mendatang tidak memihak kepada umat Islam. Sebab, partai pemenang pada pemilu legislatif berasal dari partai yang anti-Islam. Di dalam politik Islam, sistem bukan menjadi persoalan dalam proses politik. Namun, politik Islam lebih melihat kepada sosok pemimpin. Figur lebih berperan daripada sistem politik dalam suatu negara. Pada masa Rasulullah, kemajuan umat Islam bukan disebabkan oleh sistem yang dipakai. Namun, pemimpin Islam pada waktu itu memiliki sifat kepemimpin yang sesuai dengan ajaran Islam. Misalnya, jujur, Amanah, dan bertanggungjawab.

Sejarah politik Islam pernah menggunakan berbagai sistem dalam memilih pemimpin. Baik dengan sistem tunjuk langsung, musyawarah mufakat, dan sistem kekuasaan raja. Semua sistem tersebut tetap membawa dampak positif bagi umat Islam. Umat Islam untuk cerdas dalam memilih pemimpin. “Pemimpin harus menjadi pengayom dan pelindung.

KH Cholil Ridwan

Masjid seharusnya tidak hanya berfungsi untuk kegiatan ibadah saja, sejatinya masjid seperti yang dicontohkan Rasulullah adalah sebagai pusat kegiatan termasuk urusan politik. “Karena itulah kita buat Pengajian Politik Islam (PPI) yang salah satunya untuk mengembalikan fungsi masjid tersebut,” ujar pendiri PPI KH Cholil Ridwan saat memberikan sambutan pada Tabligh Akbar Politik Islam (TAPI) ke-10 di Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (4/11/2017).

PPI, kata Kyai Cholil, yang juga didirikan oleh KH Abdul Rasyid Abdullah Syafii (As Syafiiyah) dan KH Syuhada Bahri (Dewan Dakwah) ini memiliki tujuan agar umat Islam khususnya para ulama dan tokoh umat melek politik Islam. “Dan itu kita selenggarakan di masjid, untuk menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan. Dulu Nabi tidak pernah membangun kantor, tapi seluruh kegiatan negara Madinah dalam soal ekonomi, sosial, politik bahkan militer itu di masjid,” jelasnya. Umat Islam yang realitasnya punya perbedaan mazhab atau organisasi jangan dijadikan penghalang untuk persatuan umat. “Kita boleh berbeda mazhab, tetapi harus bersatu dalam masalah politik. Dan soal mazhab ini di luar aliran menyimpang seperti Syiah atau Ahmadiyah,” kata Kyai Cholil.

Saat ini, lanjut Kyai Cholil, untuk sementara aspirasi umat Islam bisa disalurkan kepada partai Islam dan partai yang berpihak kepada Islam. “Namun PPI sadar bahwa umat Islam butuh partai ideologis yang kaffah dan Islami,” tuturnya dihadapan ribuan jamaah yang hadir. Kembali ia menegaskan, bahwa umat Islam harus melek politik Islam. Politik Islam disini adalah setiap urusan politik yang sesuai dan tidak melanggar aturan Islam, bukan mempolitisasi Islam, membawa-bawa Islam tapi untuk kepentingan pribadi, itu yang dilarang.

“Apalagi buat kalangan pesantren, itu juga harus melek politik karena ada kitab kuningnya. Minimal ada dua kitab soal politik ini yaitu Siyasah Syar’iyah dan Al Ahkam As syultoniyah. Makanya kita perlu juga ngaji bareng (ngabar) bersama ulama dan politisi,” tandasnya.

Dalam TAPI ke-10 yang bertemakan “Pancasila, Piagam Jakarta dan Perrpu Ormas” ini juga dibacakan ikrar oleh para ulama dan jamaah. Ikrar tersebut untuk memperkuat persatuan umat Islam dan menolak dukungan terhadap partai politik pendukung Perppu Ormas. Selain itu, digelar juga deklarasi Gerakan Indonesia Shalat Subuh (GISS) untuk mengajak umat Islam agar istiqomah shalat subuh berjamaah dengan harapan ke depannya setiap masjid di seluruh Indonesia shalat subuhnya ramai seperti shalat jumat. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s