Manakah Ulama Su’ dan Ulama Akhirat ? Kenali Mereka Di Sekitar Kita ?

Manakah Ulama Su’ dan Ulama Akhirat ? Kenali Mereka Di Sekitar Kita ?

Sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama
Sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama
Ulama Akherat adalah ulama pewaris Nabi, warasat al-anpj
Ulama duniawi adalah ulama su’
Ulama su’ adalah ulama disekitar penguasa zalim

Ulama suu mempergunakan ilmunya untuk mendapatkan kepuasan duniawi
Ulama suu menjadikannya tangga untuk meraih pangkat dan kedudukan.
Ulama akherat adalah ulama yang sadar betul akan ilmu yang dimilikinya.

Ulama akhirat adalah ulama yang haq
ulama yang benar-benar beramal dengan Al-Quran dan Sunnah
ulama akhirat disebut juga ulama ul ‘amilin.

saat ini sulit untuk dapatkan ulama yang haq ini.
tidak banyak ulama Akhirat’
mereka dapat menggunakan kesempatan dunia untuk Akhirat
dunia tidak dapat menipu mereka.
di akhirat mereka jadi orang yang menang
jadi orang besar dan orang kaya Akhirat

merekalah yang mengambil tugas nabi-nabi di zaman tidak ada nab
Mereka bagaikan obor di zamannya dan pribadi mereka adalah bayangan dari pribadi Rasulullah SAW.
Istiqomah aqidah, ibadah, akhlak dan dakwahnya, takutnya hanya pada Allah” (QS Al Anbiya 28).

“Senangnya berjamaah ke masjid, lembut tutur katanya, bicaranya hikmah yang mengajak hijrah menuju Allah, tegas menyampaikan yang haq, tampak sekali kerendahan hatinya, wajahnya murah senyum bercahaya, ikhlasnya mengajar tanpa minta upah apalagi bertarif. Ikutilah mereka yang berdakwah yang tidak minta upah, merekalah hamba-hamba Allah yang mendapat hidayah Allah” (QS Yasin 21).

Menerima upah dari berdakwah juga tidak apa-apa asalkan tidak meminta-minta bayaran (pasang tarif). Rasulullah bersabda : Dari Ibnu as Sa’idy al Maliki, bahwasanya ia berkata: “Umar bin Khattab ra mempekerjakanku untuk mengumpulkan sedekah. Tatkala selesai dan telah aku serahkan kepadanya, ia memerintahkan aku untuk mengambil upah.” Lalu aku berkata: ”Aku bekerja hanya karena Allah, dan imbalanku dari Allah.”
Lalu ia berkata: “Ambillah yang telah aku berikan kepadamu. Sesungguhnya aku bekerja di masa Rasulullah saw dan mengatakan seperti apa yang engkau katakan. Lalu Rasulullah saw bersabda kepadaku: “Jika aku memberikan sesuatu yang tidak engkau pinta, makanlah dan sedekahkanlah.” (HR. Muslim).

Ulama’ Dunia adalah Ulama’ Su

Rasulullah mengistilahkan ulama su’ adalah “para dai yang berada di tepi pintu-pintu neraka”.
Dan sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku ialah para ulama-ulama yang menyesatkan.” (H.R. Abu Daud).
ulama su’ selalu menginginkan kekayaan
hidupnya bermewah-mewah dan kehormatan duniawi
mereka berkhianat pada hati nurani, asalkan tujuan tercapai.
ulama tersebut bergaul bebas dengan raja-raja dan pegawai pemerintah, penguasa, serta memberikan sokongan moral terhadap tindakan mereka, tak peduli baik atau buruk.

ulama putih pernah mengungkap
Kelak akan datang suatu masa tatkala hati manusia asin
ilmu tidak bermanfaat lagi
Saat itu, hati ulama laksana tanah gundul dan berlapiskan garam
Meski disiram hujan, namun tidak setets pun air tawar nan segar dapat diminum dari tanah itu.

Dalam dakwahnya mereka membicarakan tentang meraih kesejahteraan dan kebahagiaan dunia bukan bagaimana caranya meraih kesejahteraan di akhirat.
Berdakwah jika hanya ada upahnya. Kalau tidak ada upah enggan untuk berdakwah.
Agar terhindar dari hasutan ulama’ Su’ hendaknya kita senantiasa berdoa dan belajar Islam kepada para Ulama’ Akhirat

Kitab ternama “Ihya Ulumuddin” (menghidupkan ilmu-ilmu agama) ditulis Ghazali di antaranya sebagai counter terhadap upaya ulama su’ yang memadamkan ilmu-ilmu agama.

Di awal kitab Ihya’ Al-Ghazali memprihatinkan situasi saat ilmu-ilmu agama terancam padam. Penyebabnya banyak ulama yang mestinya menjadi pewaris Nabi justru gagal mengemban misi mulianya tersebut.
Menurut Al-Ghazali, umat dibikin untuk percaya bahwa fatwa yang absah hanyalah “fatwa al hukumah” fatwa resmi ulama dari pemerintah sedangkan yang lain bukan. Sehingga umat pun juga dibikin terperdaya oleh ulama yang berdebat bukan demi ilmu, tapi demi keelokan pada publik dan pangkat.
Umat juga dikelabui oleh mereka yang mahir berpetuah agama padahal hanya demi mengejar publisitas, harta atau pangkat. Hal-hal di ataslah yang menyebabkan ilmu-ilmu keislaman justru meredup. Atas dasar itulah Ghazalu menulis kitab Ihya Ulumiddin tersebut.
Imam Ghazali mengkontraskan antara ulama su’ dengan ulama akhirat, yang terakhir itulah ulama sejati. Sebelum membahas pandangan Ghazali ttg ulama su’, ada baiknya kita bahas dulu tentang posisi ulama dlm Islam.

Ulama, bentuk plural dari ‘alim, sejatinya punya posisi sangat mulia, karena perannya sebagai pewaris dari misi kenabian. Posisinya jauh lebih tinggi di mata Allah dibanding ‘abid (ahli ibadah). Ibadahnya Ulama lebih bermutu.

Ada hadist masyhur, barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan menjadikannya betul-betul faham akan agama. Al-Qur’an bahkan menyebut bahwa yang punya khasyah (takut) pada Allah hanyalah ulama.
Dengan kata lain, ulama, karena ilmunya, adalah golongan yang punya posisi amat mulia di mata Allah. Tapi siapa menentukan seseorang sebagai ulama? Inilah soalnya.
Dalam islam (khususnya sunni), tidak ada otoritas religius tunggal resmi. Tidak ada otoritas religius tunggal resmi yg memutuskan status keulamaan seseorang. Ini beda dengan doktor/ profesor yang diotorisasi universitas atau hakim yang diangkat negara. dan
ulama su’ yang menjadikan keulamaannya sebagai komoditas untuk mendapatkan harta duniawi.
Imam Hasan: siksaan buat ulama adalah matinya hati mereka jadikan amalan akhirat demi memburu dunia.
ulama yang dengan keulamaannya merapat ke pemimpin yang zalim dan melegitimasinnya.
Menurrt Ghazali, orang beragama harusnya menentng kezaliman si pemimpin. Kalau tak mampu, menyingkir dari mereka.
Tapi oleh ulama su’ tersebut mendekat ke penguasa zalim, demi harta dan jabatan.
Dengan melegitimasi mereka, ulama justru bersekutu dengan kezaliman.

Kata Ghazali, si ulama bisa saja merasa dengan mendekat ke sang penguasa dengan niat menjadikannya orang saleh.
Si ulama mengkhayalkan bahwa upayanya untjuk ‘nempel’ penguasa zalim itu demi perjuangan agama.
Namun begitu sudah jadi bagian dari sistem si penguasa lalim, sang ulama jadi melunak dan menyokongnya.
Dalam situasi demikian, kata Ghazali, “wa fihi halak al din”. disitulah letak hancurnya agama.
Bbegitu mudahnya mereka mengeluarkan fatwa, demi kepentingan materi atau politik duniawi. Ulama akhirat, menurut Ghazali, akan sangat berhati-hatu untuk berfatwa.Tapi ulama su’ justru mengumbarnya, demi motif duniawi.

Menurut Imam Ghazali, keulamaan bukan semata-mata soal kemahiran ilmu agama, tapi terutama integritas moral dan kemurnian hati.
Kecaman Ghazali thd ulama su’ menegaskan, tak semua yang berlabel ‘ulama’ benar-benar punya kualifikasi keulamaan.
Ulama memang amat mulia di sisi Alla.
Tapi kenyataannya, yang bergelar ulama bisa saja sama sekali tak mulia, tapi busuk.
Ulams su’ di mata publik bisa saja tetap dianggap ulama, tapi sejatinya mereka palsu, itulah yg dikecam keras Ghazali

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s