Amin vs Luhut: Indeks Demokrasi Era Jokowi Semakin Merosot. Apalagi ketika Para Pengritik Dikejar Dosanya

Indeks Demokrasi Era Jokowi Semakin Merosot. Apalagi ketika Para Pengritik Dikejar Dosanya

Dalam 3 tahun terakhir ini indeks demokrasi Indonesia semakin merosot.Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebut indeks demokrasi Indonesia pada 2014 berada pada angka 73,04; pada 2015 di angka 72,82, dan 2016 di angka 70,09. “Ada tiga aspek, kebebasan sipil, hak politik, Tampaknya salah satu faktornya adalah ketika para pihak yang berseberangan dengan pemerintah dikriminalisasi. Fenomena ini semakin jelas terungkap ketika Prof Dr Amin Rais mengkritisi pemerintah direspon keras oleh menteri Luhut dan diancam akan dikejar dosa dosanya. Tokoh reformasi dan Ketua Majelis Kehormatan PAN, Prof DR Amien Rais dikenal kritis pada setiap pemerintahan yang dianggapnya menghianati rakyat, sering melontarkan kritik kepada pemerintah berkuasa saat jamannya. Mulai era Soeharto hingga Jokowi tak lepas dari kritiknya saat ketidakadilan menimpa rakyat Indonesia. Saat ini dengan tegas Amin kembali mengkritisi ketidakadilan yang ada dalam masyarakat dengan mengatakan ada pembohongan dalam program bagi-bagi sertifikat tanah. Ia menegaskan, program bagi-bagi sertifikat tanah itu pengibulan karena ada 74 persen tanah di negeri ini dikuasai kelompok tertentu, pemerintah diam saja. Penguasaan tanah yang luar biasa luas itu seolah dibiarkan. “Ini apa-apaan,” kata Amien saat menjadi pembicara dalam diskusi “Bandung Informal Meeting” di Bandung, Ahad (18/3). Menanggapi kritik keras bapak reformasi itu membuat menteri Luhut Binsar Pangaribuan meradang dan mengancam akan mencari dosa dosa Amin Rais. Fenomena dua tokoh itu membuat panas peta politik Indonesia. Beberapa pengamat dan masyarakat menilai bahwa respon berlebihan Luhut justru akan menurunkan citra penguasa. Hal itu akan mengungkap perilaku penguasa yang selama ini membungkam pihak yang mengkritisi dengan mengungkap dosa dosa para pengritik dan mengkriminalisasi mereka. Demokrasi Indonesia terkini menunjukkan bahwa para pengkritik pemerintah di antaranya DR Habib Rizieq, Dr Sri Bintang Pamungkas, Rahmawati, Ahmad Dani, para ulama, tokoh Islam dan pendukung aksi bela Islam 212 banyak yang dicari cari dosanya bahkan beberapa dianggap makar. Tapi saat ini penegak hukum masih belum bisa membuktikan mereka adalah pelaku makar. Bahkan para pendukung Aminpun berbondong bondong membelanya dengan mengatakan bahwa kalau ada sesuatu yang terjadi pada Guru Besar UGM itu masyarakat akan tahu siapa pelakunya.

Seketika Menko Kemaritiman Luhut B Panjaitan menanggapi kritik itu dengan mengatakan program sertifikat tanah itu terus berjalan. Tidak benar jika dikatakan program sertifikat tanah itu membohongi, karena memang prosesnya lam dan panjang. Luhut meminta ‘senior-senior’ untuk tidak asal bunyi dalam berbicara. “Dia kan 70 tahun, sata 71 tahun juga,” kata Luhut. Ia menegaskan pemerintah tidak antikritik, tetapi meminta agar kritik yang disampaikan kritik yang membangun. Luhut mengaku memiliki rekam jejak sosok yang disebutnya senior dan berusia 70 tahun itu. Dalam sebuah berita media online nasional Luhut bereaksi keras dengan mengatakan: “Jangan asal kritik saja. Saya tahu track record-mu kok. Kalau kau merasa paling bersih kau boleh ngomong. Dosamu banyak juga kok, ya sudah diam sajalah. Tapi jangan main-main, kalau main-main kita bisa cari dosamu kok. Emang kau siapa?”

Wakil Ketua Umum PAN Taufik Kurniawan meminta agar para politikus di partai pengusung pemerintah tidak ‘baper’ (bawa perasaan) menyikapi kritikan Amien Rais. Menurut dia, pernyataan Amien masalah pemerintah ‘ngibul’ soal sertifikat tanah, adalah untuk mengingatkan pemerintah. “Janga reaktif. Partai pengusung tidak usah baper,” kata Taufik, Senin (19/3). Dikatakan Wakil Ketua DPR ini, apa yang disampaikan Amien Rais adalah menyoroti target pemerintah yang belum tercapai. Termasuk dalam hal pembagian sertifikasi tanah. Konteksnya mengingatkan bahwa masih banyak PR (pekerjaan rumah) yang harus dilakukan pemerintah,” kata Taufik. Hal ini diingatkan karena masa jabatan presiden periode 2014-2019 sudah hampir selesai. Pernyataan keras Amien Rais, menurut Taufik, memang sudah sejak zaman dahulu. Bahkan di era Pemerintahan Presiden Soeharto, mantan Ketua MPR itu menjadi salah satu tokoh yang berani mengkritik keras pemerintah. “Beliau sudah milik bangsa. Jadi anggaplah ini sebagai cambuk mengejar target pemerintah, untuk introspeksi,” ungkapnya.

Reaksi pemerintah tersebut sebenarnya fokus pada subtansi oenting bahwa selama ini pada sekelompok masyarakat yang memiliki ribuan hektare kebun sawit, maupun batubara dan emas. Bukan sertifikat tanahnya. Tapi soal yang Pak Amien sebut 74 persen tanah kita itu dimiliki asing. Anggota Dewan Kehormatan PAN Dradjad Wibowo menilai reaksi Luhut terhadap kritik yang disampaikan Amien Rais, berlebihan. Ini menunjukkan ada personel-personel kunci dalam pemerintahan Presiden Jokowi yang antikritik. Reaksi Luhut itu, kata Dradjad, menjadi iklan yang buruk bagi Pemerintahan Jokowi. Mengapa? Karena bisa dipakai sebagai pembenaran bahwa pemerintahan terkesan senang mencari kesalahan dari pihak yang berbeda pandangan dan atau berseberangan. Selain itu, menimbulkan kesan bahwa pemerintah juga suka main ancam dan tidak ragu memakai segala cara untuk membalas dendam.

Masalah bangsa yang disampaikan tokoh reformasi dan tokoh aksi 212 itu adalah fakta bukan hoax. Bahwa sebagian besar tanah Indonesiasaat ini sebagian dikuasai asing. Bahkan tokoh muhamadiayah pendukung Jokowi seperti Mantan ketua umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif mengaku prihatin karena keadaan ekonomi di Indonesia yang sebagian besar asetnya dikuasai oleh asing. “Yang cukup mengharukan adalah tanah kita ternyata 80 persen dikuasai oleh asing, 13 persen dikuasai konglomerat, sisanya tujuh dibagi untuk 250 juta jiwa,” kata Syafii Maarif dalam tulisannya yang dibacakan takmir masjid setempat saat menerima silaturahim Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Sleman di Nogotirto, Gamping Sleman, Rabu (5/7) seperti dilansir replubika.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s