Kontradiktif Jokowi: Alquran Pedoman Berbangsa Bernegara, Sebelumnya Katakan Pisahkan Agama dan Politik

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan Alquran diturunkan ke bumi sebagai pedoman bagi umat manusia. Alquran dan hadist bisa membawa manfaat bagi alam, termasuk kehidupan yang baik dalam berbangsa dan bernegara.”Pedoman yang harus kita baca, pahami, hayati dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Pedoman yang harus jadi bagian yang tidak terpisahkan dari diri kita sebagai manusia untuk menempuh jalan yang diridhai Allah,” kata Jokowi saat menerima peserta Musabaqah Hafalan Al-Qur’an dan Hadist Pangeran Sultan bin Abdul Aziz Alu Su’ud Tingkat Asean Pasifik ke-10 di Indonesia 2018 di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (22/3/2018). Menurut Jokowi, Alquran adalah jalan untuk kehidupan yang penuh cinta damai, saling tolong-menolong dan penuh persatuan. Ia berharap, pelaksanaan musabaqah jangan dipandang sebagai pelaksanan acara biasa. Sebab, musabaqah adalah sarana untuk memacu pengembangan tilawah, hafalan serta pendalaman isi Alquran. Tampaknya kali ini pidato presiden normatif dan memang hal itulah fakta yang harus diikuti semua umat Indonesia yang mengaku muslim. Tetapi hal itu menjadi kontradiktif ketika bebe tap waktu sebelumnya Jokowi juga menyerukan kepada masyarakat Indonesia untuk memisahkan agama dan politik.

Pidato Presiden Joko Widodo itu sangat kontradiktif dengan pidato sebelumnya yang meminta semua pihak agar memisahkan persoalan politik dan agama. Menurut Presiden, pemisahan tersebut untuk menghindari gesekan antarumat. “Memang gesekan kecil-kecil kita ini karena pilkada, karena pilgub, pilihan bupati, pilihan wali kota, inilah yang harus kita hindarkan,” kata Presiden saat meresmikan Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Jumat (24/3/2017), seperti dilansirAntara. “Dipisah betul, sehingga rakyat tahu mana yang agama, mana yang politik,” kata Jokowi.

Jokowi dianggap banyak pihak tidak memahami apa yang diucapkan sehingga terjadi kontradiktif. Makna Politik adalah segala kegiatan manusia yang berorientasi kepada masyarakat secara keseluruhan, atau yang berorientasi dalam berbangsa dan bernegara. Sebuah keputusan disebut keputusan politik apabila diambil dengan memperhatikan kepentingan masyarakat sebagai keseluruhan. Suatu tindakan harus disebut politis apabila menyangkut masyarakat sebagai keseluruhan. Politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik (negara) yang menyangkut proses menentukan dari tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, dapat dikatakan bahwa politik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan negara maupun proses pengambilan keputusan ketatanegaraan. Segala sesuatu yang menyangkut kekuasaan dalam mengatur kepentingan dan kebaikan rakyat secara keseluruhan. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara luas, politik tidak semata mata diartikan sebagai proses kekuasaan pemerintahan, baik di lembaga legislatif, eksekutif, maupun yudikatif (suprastruktur politik). Proses politik juga terjadi dalam proses-proses kekuasaan yang ada pada lembaga lembaga non pemerintahan, seperti partai politik dan organisasi kemasyarakatan, sebab lembaga lembaga tersebut secara langsung maupun tidak langsung ikut terlibat dan berpengaruh terhadap proses kekuasaan di dalam negara (infrastruktur politik).
Wakil Ketua DPR Fadli Zon tidak sependapat dengan pernyataan Presiden Joko Widodo yang meminta urusan politik dan agama dipisahkan. Menurut Fadli, semangat politik dan agama yang tidak bisa dipisahkan sudah sejak awal diakui pendiri negara.

Kontroversi

  • WAKIL ketua DPR Fadli Zon. “Pernyataan Presiden Jokowi kurang tepat, bermasalah, dan bahkan ahistoris. Indonesia bukanlah negara agama, tapi itu bukan berarti agama harus terpisah dari kehidupan politik,” kata Fadli dalam keterangannya, Rabu (29/3/2017). Fadli menuturkan agama dalam masyarakat Indonesia sudah menjadi realita sosial sekaligus politik, yang tak dapat dipisahkan. Secara historis, semangat ini sudah sejak awal diakui para pendiri negara ini. “Agama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia melingkupi seluruh aspek kehidupan baik ekonomi, politik, hingga hukum. Hukum agama diakui dalam sistem hukum kita seperti hukum perkawinan, warisan, dan seterusnya,” paparnya. Waketum Gerindra ini mengatakan bahwa pada 1973, Bung Hatta mengingatkan Presiden Soeharto agar RUU Perkawinan disesuaikan dengan aspirasi umat Islam. Bung Hatta juga pernah menyatakan bahwa bagi muslim berjuang membela tanah air bukanlah suatu pilihan, namun merupakan tugas hidup. “Ini menandakan agama melekat dalam masyarakat kita,” ungkap Fadli. Dia juga mengutip Pancasila dan pembukaan UUD 1945 bahwa semua diawali dengan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa. “Justru pemisahan agama dan politik bisa menimbulkan masalah,” tambahnya. Menurut Fadli, gesekan dalam pemilihan kepala daerah lebih disebabkan oleh pernyataan satu orang yang sangat provokatif. Dia menyebut pernyataan tersebut yang menjadi akar gesekan selama ini. “Jika saja tidak ada pernyataan Basuki Tjahaja Purnama yang menyinggung kelompok Islam, gesekan masyarakat juga tidak akan eskalatif seperti saat ini. Sebelum ada pernyataan provokatif dari Basuki, hubungan antar umat beragama di Jakarta, baik-baik saja,” ujar Fadli. Dia berharap Presiden dapat lebih jernih mengidentifikasi akar permasalahan. Menurutnya, ekspresi dan motivasi politik seseorang tak masalah jika dijalankan berdasarkan nilai agama.
  • Ucapan Jokowi ini langsung membuat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin angkat bicara. Dia menilai apa yang dikatakan oleh Jokowi merupakan pemahaman agama yang bersifat destruktif yang dapat meresahkan masyarakat. Sebaliknya, Ma’ruf menyatakan bahwa politik dan agama bisa saling menopang. Jangan sampai masyarakat salah paham dengan apa yang diucapkan Jokowi.
  • Ketua Umum Partai Bulan Bintang Yusril Ihza Mahendra khawatir apa yang diucapkan Jokowi tersebut akan menimbulkan kesalahpahaman. Dia pun mengatakan persoalan hubungan agama dan negara bukan sesederhana yang dibayangkan. Menurut dia, sepanjang sejarah Indonesia, agama dan politik tak pernah bisa dipisahkan. Salah satunya ketika Presiden Sukarno mencanangkan Pancasila sebagai dasar negara.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s